Berita

Berdayakan Pemuda atasi Masalah Sosial dan Demokrasi

Sabtu Pahing, 18 Maret 2017 10:58 WIB 1311

foto
Peserta dan narasumber workshop pendidikan politik. (djn)

KPU.Bantul.kab.go.id - Dalam rangka membangun sikap kritis dikalangan pemuda, Kantor Kesbangpol Bantul bekerjasama dengan KPU Kabupaten Bantul melaksanakan kegiatan Workhsop pendidikan politik dengan tema “Membangun Budaya Kritis di Kalangan Pemuda”. Workshop yang berlangsung pada hari Kamis (16/03) di Bantul Teracce dengan manghadirkan nara sumber Dr Arie Sujito (Sosiolog UGM) dan Titik Istiyawatun  Khasanah,SIP (Komisioner KPU Bantul). Workshop dibuka oleh Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Bantul, Stephanus Heru Wismantara, SIP,MM.

Dalam sambutannya Heru  menegaskan bahwa dengan kegiatan workshop ini diharapkan dapat memunculkan peran pemuda sebagai agen perubahan yang kritis dan berpartisipasi dalam pembangunan di Kabupaten Bantul. Komisioner KPU Bantul, Titik Istiyawatu Khasanah, SIP pada kesempatan yang sama menyampaikan bahwa pemuda Bantul mempunyai banyak sekali potensi untuk itulah potensi yang ada harus dikembangkan dengan terutama bidang sosial dan demokrasi.

Lebih lanjut disampaikan bahwa masalah sosial dan politik saat ini tidak terlepas dari relasi antara rakyat dengan negara. Negara dalam hal ini harus responsif dan berpihak kepada rakyat terutama dalam penanganan masalah sosial yang terjadi. Untuk itu maka diperlukan upaya bersama-sama dalam hal membangun kultur dan regulasi antara negara dengan rakyat.

Sedangakan narasumber lainnya, Dr. Arie Sujito memaparkan bahwa generasi muda saat ini mengalami disorientasi, gejala disorientasi ini mengakibatkan pemuda tercerabut dari lingkungan sosialnya sendiri. Sosiolog UGM ini menjelaskan bahwa disorientasi dikalangan pemuda ini harus segera ditangani dengan aksi-aksi yang solutif dengan cara memanfaatkan energi anak-anak muda di Bantul dengan kegiatan-kegiatan yang positif.

Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan membangun ruang bagi komunitas pemuda seperti sanggar-sanggar yang dibangun berbasis dusun dan desa. Ruang bagi komunitas ini dapat menjadi tempat aktivitas bagi pemuda baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.

Workshop yang diikuti oleh organisasi kepemudaan/ sosial di Bantul seperti Karang Taruna, KNPI, Fatayat, Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Hindu menghasilkan 3 (tiga) poin rekomendasi. Pertama, segenap organisasi kepemudaan/sosial di Bantul menggelorakan gerakan anti kekerasan jalanan di Bantul dengan cara mengaktifkan kelompok-kelompok pemuda agar meningkatkan kewaspadaan dan membuat aksi yang berorientasi gerakan save generasi muda Bantul. Kedua, membangun budaya kritis dikalangan pemuda untuk merespon masalah sosial dan demokrasi dengan aksi-aksi nyata yang solutif. Ketiga, meminta kepada pemerintah untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan diskusi organisasi kepemudaan/sosial di wilayah setempat guna merespon masalah sosial dan solusinya. (djn)